Pilkada Bali sebentar lagi, dan para calon gubernur yang akan maju ke Pilgub nanti sepertinya sudah mengambil ancang-ancang dari beberapa waktu yang lalu. Apalagi tentu saja yang sedang heboh belakangan ini mengenai “kemesraan” Bapak Mangku Pastika dengan bebotoh-bebotoh tajen di Bali. Berita ini heboh dan menjadi headline di beberapa blog teman-teman BBC seperti Bli Anton, Bli Winardi, Bli Dek Didi, Bli Wira, dan lain-lain.

Btw, bukan itu sih yang mau saya bahas di sini. Yang saya mau tulis di sini adalah pengalaman saya suatu waktu di suatu tempat makan kaki lima di Daerah Kuta. Mungkin ada yang tahu dagang soto ceker di Pasar Kuta yang buka malam hari (bener ga Pasar Kuta ya? Biasanya sekitar jam 10 bukanya). Eits, bukan masalah keenakan sotonya yang ingin saya bahas di sini. Bukan pula masalah parkirnya yang semrawut dan tukang parkirnya yang ga mau ngasih karcis parkir, apalagi lampu merah di perempatan dekat situ. Sama sekali bukan.

Foto untuk Bahan Kampanye Untuk Para Calon Gubernur Bali

Singkat kata singkat cerita, sehabis makan (bali: mategtegan) tiba-tiba saya tertarik memperhatikan sekelompok anak-anak yang bermain-main di pinggir jalan raya. Mereka sepertinya sedang memperebutkan sesuatu. Sejenak terjadi keributan, sepertinya mereka bertengkar. Tetapi kemudian mereda. Beberapa anak kemudian berpencar kemudian menghampiri pembeli-pembeli yang sedang asik menikmati makanan di sebuah warung di seberang tempat saya makan. Ealah, kemudian mereka menengadahkan tangannya ke pembeli-pembeli itu. Beberapa pembeli tampak memberikan uang kepada mereka, sedangkan yang lainnya hanya mengacuhkan.

Setelah membayar makanan, saya pun berjalan ke arah kendaraan. Seorang anak menghampiri saya dan menengadahkan tangan. Spontan saya pun bertanya, “Dija ibu gus? – Di mana ibumu nak?”. Dia hanya menggelengkan kepala dan tetap menengadahkan tangan. Kemudian saya kembali bertanya, “Jak kuda menyama? – Kamu bersaudara berapa orang?”. Kemudian dia menunjuk ke arah kawan-kawannya yang lain. Ooo… ternyata mereka semua bersaudara.

Perlahan saya hampiri mereka. Kemudian saya ambil HP dan saya foto mereka. Entah kenapa saya spontan saja melakukannya. Eh, ga tau kenapa mereka kemudian berlarian. Mungkin takut difoto?! Entahlah! Kemudian salah seorang anak yang masih berada di dekat saya, saya hampiri dan saya beri beberapa lembar uang ribuan. “Dum jak timpal-timpale! – Bagi dengan teman-temanmu!”, kata saya. Kemudian saya pun bergegas menuju kendaraan saya.

Dalam perjalanan saya pun termenung atas kejadian tadi. Jujur saja, saya bukan tipe orang yang mudah kasihan dan itu mungkin kali pertama saya memberi anak-anak itu uang. Kerapkali saya menemui teman-teman mereka di perempatan jalan di seputaran Denpasar, saya tidak pernah mau memberi mereka. Bukan saya tidak iba, bukan pula karena pelit. Saya hanya berpikir bahwa hal itu tidak akan mendidik mereka. Saya ingin mereka sadar bahwa mencari uang itu tidak instant. Ah, maafkanlah saya kalau di mata anda saya kurang dermawan.

Kemudian pikiran saya tertuju ke para calon gubernur Bali itu (mungkin karena siangnya sempat chatting dengan Bli Winardi – lupa kapan ni chattingnya- tentang masalah Pilgub ini). Pikir Saya, kenapa sih mesti ngeributin bebotoh? Tidakkah mereka pernah melewati salah satu saja perempatan di Denpasar dan menjumpai hal seperti yang saya alami? Dan jikalau pun pernah, tidakkah pernah berpikir bagaimana caranya untuk memperbaiki kehidupan mereka?

Kenapa sih mesti ngurusin bebotoh? Saya yakin bebotoh itu anak-anaknya bersekolah (beberapa saja mungkin tidak karena Bapaknya lebih sibuk ngurusin ayam)! Lha ini, sudah jelas-jelas di depan mata. Generasi-generasi yang akan ikut melanjutkan keturunan di Bali kok dibiarkan di jalanan seperti itu? Masak sih ga bisa membujuk mereka untuk pulang ke kampungnya? Atau minimal menitipkan mereka di sekolah-sekolah di Denpasar sekedar untuk belajar baca tulis kalau memang tidak mampu bikin sekolah gratis!

Okelah, kalau memang sekolah gratis ga bisa dibuat ato Pemda ga punya uang untuk sekedar menitipkan mereka di sekolah-sekolah di Denpasar. Kenapa ga mengirim utusan ke Komnas Perlindungan Anak biar mereka yang mengurus anak-anak ini yang saya yakin jumlahnya bejibun di Indonesia. Daripada ngurusin anak-anak selebritis yang mau cerai, saya kira lebih mending mengurusi mereka-mereka yang di jalanan.

Hah… Apalah daya saya! Saya hanya punya sebuah blog untuk memberitakan hal ini. Saya cuman berharap topic-topic kampanye yang GA PENTING itu disudahi saja. Lebih baik mengurusi hal-hal yang lebih nyata! Saat ini kita bahkan sudah punya cyberschool, tetapi masak hal-hal seperti ini saja tidak bisa (at least, belum bisa) diatasi oleh pemerintah kita? Hah… semoga saja hal-hal seperti ini bisa dijadikan bukan hanya sekedar bahan kampanye tetapi juga program kerja yang nyata oleh Gubernur Bali nanti, siapa pun orangnya.

Update 27 Maret: beberapa kalimat saya update agar tidak menimbulkan ketersinggungan dengan tidak mengurangi arti.


  • Share/Bookmark

24 Responses to “Bahan Kampanye Untuk Para Calon Gubernur Bali”

  1. anton says:

    cagub hanya sibuk cari popularitas. makanya sibuk ngurus tema2 populis alis yg menarik perhatian. sayangnya kadang jadi blunder, kayak soal tajen itu.

    makanya, jd ga maju jd cagub? :D

    [Reply]

  2. Deddy says:

    Kok cagub Bali ga mau tebar pesona dengan pasang comment di blogger2 bali ya? :D

    Btw, ceker di situ uenak banget!
    ps: postingan di atas emang panjang, tapi dibaca sampai selesai kok ;)

    [Reply]

  3. devari says:

    sama dengan adsense, kita harus cari keyword biar mudah dirambah sama search engine.

    dalam hal ini, keyword nya pastika adalah ‘tajen’ maka dia akan membuat ‘postingan’ dengan memakai kata kunci tajen itu, entah isinya bagaimana kan tergantung pada pembaca yg menikmati.

    asal jangan saja kita2 ini menjadi seperti search engine yg begitu saja meng-crawl isi postingan tanpa memperhatikan talian makna yg ada dalam postingan itu sendiri.

    [Reply]

  4. dipoetraz says:

    sama seperti comment di tempat yang lainnya… kalo bapak saya maju baru saya pilih…

    [Reply]

  5. budarsa says:

    kayak na blum ada cagub yang bisa melihat persoalan Bali secara menyeluruh neh bli.

    [Reply]

  6. ghozan says:

    hmm benar2 mengenaskan nasib mereka. sempat terpikir untuk menulis tulisan yang senada dengan ini tapi terilhami dengan kelaparan di Karangasem. padahal bupatinya seneng jalan2 keluar negeri (baca: kunjungan kerja). wakil rakyat harusnya merakyat… (sepertinya gak mungkin deh), kapan lagi jadi wakil rakyat oleh karena itu pupuklah uang sebanyak mungkin selagi menjabat :D

    [Reply]

  7. dani says:

    senada dgn deddy..
    cb calgub punya blog sendiri..menjangkau suara peblog..
    plg ngga kan rame komen protesnya.. :D

    [Reply]

  8. artana says:

    Anak-anak itu pasti bilang dari Karangasem bli ya?…he..he nasiiib…
    ayo para Cagub, kampanyelah di karangasem, biar mereka “pulang”!

    [Reply]

  9. ick says:

    dunia memang kejam bli, tengok saja daerah karangasem bli[desa bebandem]…sekarang mereka terkena wabah muntaber, namun tak satupun calon bali satu yang mengunjungi mereka, malah penduduk disana tidak tahu bakalan ada pil gub. mungkin para cal gub sibuk kampanye kepada para bebotoh dan melupakan kejadian di sekitar bali kita…

    maaf kalo comentnya kepanjangan…
    tapi saya bener bener miris melihat keadaan yang semakin parah dari hari ke hari…

    suksma bli…
    PAMIT

    [Reply]

  10. ArYA says:

    ngomong tok
    tai tok

    maaf klo sedikit kasar
    tapi itu lah kenyataanya

    [Reply]

  11. lengkonk says:

    mereka itu ada yg meng-organisir. Pernah suatu malem saya melihat mereka pada ngumpul, trus datanglah 1 unit truck yang mengangkut mereka, entah dibawa kemana.

    Tanya kenapa?

    *salam kenal bli

    [Reply]

  12. Deddy says:

    sekarang anggaran ABBD yang diangkat jadi isu. diprotes ama DPRD, bukannya yang mengesahkan APBD itu DPRD ya? kongol banget dah…

    [Reply]

  13. wira says:

    eits, kok ada yg nyebut cyberschool..

    boleh tanya nggak, cyberschool yg mana maksudnya? karena kayaknya ada hubungannya dengan tempat saya kerja :-)

    [Reply]

  14. imsuryawan says:

    @anton: ga minat jadi cagub! at least saat ini belum!

    @Deddy: wkwkwk.. sering makan di sana juga ya? :D

    @devari: beh, komen nya bli devari kayaknya ga perlu deh saya komentari lagi.

    @dipoetraz: kalo gitu saya pilih bapak saya juga! :D

    @budarsa: ga perlu menyeluruh Bli! Cukup yang simple2 aja dulu!

    @ghozan: ironis memang!

    @dani: wkwkkw… kapan cagub jadi blogger ya? Ato blogger jadi cagub aja ya? Hayooo sapa yang mau???

    @artana: wah saya kurang tau tuh asalnya!

    @ick: yah, memang gitu deh keadaannya!

    @Arya: ini ngomongnya ke cagubnya kan ya? :D

    @lenkonk: salam kenal juga!

    @Deddy: lho balik lagi tho Bro! :D

    @wira:
    kayaknya cyberschool di Bali cuman baru ada 1 Bli! CMIIW… Kerja di sana toh? Hehehe… mohon jangan tersinggung Bli. Saya ga bilang cyberschool itu jelek lho! Apalagi yang kerja di sana! :D

    Point nya yang ingin saya sampaikan adalah ga perlu sampai yang jauh-jauh, yang di dekat kita, di sekitar kita, di depan mata kita, masih ada yang belum keurus!

    [Reply]

  15. gus tulank says:

    Wahh… saya setuju tuh sur. Tapi, bukankah pengalihan isu sudah menjadi strategi politi??!! Untuk itu kita sebagai masyarakat harus cerdas menyikapi monuver2 politik para CaGub. Karena kita yang akan menikmati kebijakan2 yang mereka buat. Wah jadi panjang lebar. hehehe… kapan maen ke WALHI ya, kita diskusi disana. saya tunggu sur..

    [Reply]

  16. mohammad says:

    fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara negara…(salah satu pasal UUD 45)

    nice post,

    [Reply]

  17. baladika says:

    gw kok merasa gak pernah di pelihara negara ya :D

    [Reply]

  18. dede sanur says:

    Inilah wajah Bali Jani…..kayaknya sampai kapan pun hal-hal sosial yang terjadi di Bali sulit untuk dihilangkan, kita hanya berharap untuk dikurangi, yang penting pilkada nanti berjalan damai/shanti/peace………

    Oh ya hati-hati bli kasi pengemis uang, bisa kena perda, he..he..he…..salam kenal bli

    [Reply]

  19. [...] Bahan Kampanye Untuk Para Calon Gubernur Bali [...]

  20. ady gondronk says:

    dari artikel sampe semua komentnya saya seneng banget bacanya…semoga aja semakin banyak lagi yang punya pandangan demikian,tentu beberapa tahun lagi Bali akan menjadi daerah yang maju.

    mudah2an ini bukan cuma sekedar koment.

    [Reply]

  21. Ramayadi says:

    Hidup pak Mangku!

    hihihihihi pang aman gumine

    [Reply]

  22. RiRi says:

    pilih syapa Sur? :)

    [Reply]

Leave a Reply

(required)

(required)

© 2010 IMS' Blog Suffusion WordPress theme by Sayontan Sinha