Kita jumpa lagi untuk membahas UN! Wkwkw… biar ga terlalu serius! Kalo pada postingan sebelumnya saya sudah mengemukakan beberapa alasan saya, sekarang saya mau tambah lagi. Tapi kita review dulu. Sebelumnya alasan yang saya kemukakan adalah sebagai berikut:

  • Terlalu sempit batasan yang digunakan
  • Bagaimana kalau semua mata pelajaran di-UN kan? Ga deh, terima kasih…
  • Terlalu condong ke aspek teoritis

Sekarang saya ingin menambahkan beberapa alasan lagi. Langsung saja ya!

UN bukan tolak ukur keberhasilan Sisdiknas

Ini adalah alasan yang menurut saya paling menggelikan. Biaya UN 2008 yang sebesar Rp.572.850.400.000 saya kira adalah biaya yang sangat besar untuk membuat sebuah alat ukur. Seharusnya pemerintah bisa memikirkan alternatif metode yang lebih murah dan cerdas. Lembaga-lembaga statistik Indonesia bahkan sudah sedemikian akurat ilmunya sampai bisa memprediksi pemenang Pilpres 2004 kemarin, masak sih ga bisa membuat alat ukur yang lebih murah dan cerdas itu?

Lagipula dengan menggunakan UN sebagai tolak ukur juga tidak tepat. Yang diukur pun menjadi rancu, sebab keberhasilan Sisdiknas tidak dapat diukur hanya dari kemampuan menjawab sekian ratus soal-soal UN. Indikator keberhasilan Sisdiknas semestinya lebih diperluas misalnya dengan mengukur rasio jumlah sekolah, guru, dan peserta didiknya sehingga diperoleh gambaran keberhasilan pemerataan pendidikan. Indikator lainnya misalnya juga bisa diukur dengan keseuaian jumlah ketersediaan tenaga kerja terdidik dengan kebutuhan di masyarakat. Atau mungkin dengan melihat keberhasilan metode pengajaran yang dilakukan (entah gimana caranya kalo yang satu ini hehehe…).

UN hanya mengukur mata pelajaran mandatory saja? Gitu aja kok repot?!

Kan UN itu hanya mengevaluasi pelajaran mandatory saja, Sur! Kalau siswa ga bisa Matematika, ber-Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan ber-english ria, bagaimana mau maju, Sur?

Memang betul, tapi kan ga mesti se-tenget itu dong! Sampai-sampai harus menjadikannya syarat kelulusan. Yang kayak gini bahkan bikin siswa-siswi banyak yang bunuh diri lantaran ga lulus UN.

Lagipula menurut saya seharusnya tidak ada pelajaran yang bisa disebut mandatory ataupun tidak mandatory. Alasannya sudah saya kemukakan di atas. Semuanya sama pentingnya, tetapi tidak berarti harus menguasai semuanya. Pendidikan seharusnya bisa mengarahkan siswanya mengenali bakat dan kemampuannya dan kemudian mengasahnya.

Kalau tidak ada UN siswa ga mau belajar?

Ketika siswa akhirnya mau belajar karena takut pada UN, lalu apakah itu baik? Belajar itu saya pikir adalah sebuah proses. Belajar itu tidak melulu soal hasil ujian. Proses dari tidak tahu menjadi tahu itu sendiri saya pikir adalah sebuah pengetahuan. Untuk menimbulkan keingintahuan itu tentunya perlu motivasi, dan kesadaran untuk mengetahui adanya motivasi itu sendiri juga merupakan sebuah proses belajar.

Kalau pada akhirnya siswa belajar karena takut dan hanya karena mereka ingin agar bisa menjawab soal UN, akhirnya yang terjadi hanyalah bentuk kecurangan di sana-sini. Dan siswa akhirnya akan kehilangan proses belajar yang lebih berharga ketimbang hasil proses belajar itu sendiri.

Lalu apakah yang terjadi saat ini. UN malah dijadikan alat untuk menaikkan prestise sekolah. Kecurangan terjadi di sana-sini demi untuk mengusahakan agar semua peserta UN dari sekolah bersangkutan lulus. Mungkin harapannya agar sekolah itu tetap menjadi favorit masyarakat, sehingga tahun depan bisa merekrut siswa sebanyak-banyaknya. Dengan jumlah SDM yang banyak tentu meringankan beban biaya untuk membangun gedung baru yang lebih tinggi di sekolah tersebut. Hah… semoga kalimat terakhit saya ini salah!

Akhir kata

Wuih ternyata panjang sekali ya?!

Yang jelas, masalah pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Ada faktor keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Tapi tetap sutradaranya adalah pemerintah. Memang untuk menuju ke arah kesadaran nasional seperti ini perlu usaha yang keras dan tidak singkat.

Negara ini sudah banyak menghasilkan juara-juara olimpiade sains tingkat dunia. Ini membuktikan bahwa otak manusia Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain. Kita mampu bersaing. Tetapi tetap saja setelah lebih dari 60 tahun merdeka, kita masih jalan di tempat berkutat dengan persoalan korupsi, pembajakan, gontok-gontokan, dan lain sebagainya.

Akuilah bahwa Sisdiknas kita masih terlalu kolot. Metode-metodenya masih menggunakan metode jaman kuda ga pake celana (kata Bli Winardi). Dan saya kira kita tetap akan jalan di tempat jika kekolotan ini tidak dihilangkan. Kalau ingin berubah, mungkin pemerintah bisa mempertimbangkan untuk menghapus kata Ujian Nasional dari kamus besar Sisdiknas Indonesia.

Akhir kata, any input please welcome!


  • Share/Bookmark

17 Responses to “Saya Kok Ga Setuju Sama UN (2)”

  1. devari says:

    yg juga penting adalah gimana men-setup pelajaran2 itu biar nyambung maksimal dg dunia kerja ;)

    [Reply]

  2. ick says:

    ieh….jadi juga menulis metode wartawannya….

    salut….

    [Reply]

  3. ghozan says:

    waks rumit juga… cuma memang ngerasa sih UN itu terlalu digunakan sebagai tolak ukur lulus tidaknya seseorang… mestinya memang melihat proses juga, tidak cuma melihat satu angka terakhir saja… tapi gmana yah kalo gak ada ujian ya gak tau juga orang tu bisa apa gak… wah untung deh udah lewat… :D

    [Reply]

  4. eldin says:

    “Dengan jumlah SDM yang banyak tentu meringankan beban biaya untuk membangun gedung baru yang lebih tinggi di sekolah tersebut” sepertinya saya setuju sama yang ini tapi de bes sanget bli….hahahaha, vote this guy on election 2009 !?!?!

    [Reply]

  5. BlogDokter says:

    UUD alias Ujung Ujungnya Duit. :)

    [Reply]

  6. Deddy says:

    mantab nih ulasannya tentang UN.
    untung kita2 uda ga UN UN an lagi ya :D

    ujian dalam kehidupan itu jauh lebih berat dari sekedar UN…

    [Reply]

  7. jer says:

    blog ini seperti sebuah ruang yang mana setiap pengunjung berhak memiliki satu atau lebih jendela untuk memandang, melihat, mengintip bahkan menutup gordennya.
    ———————————-
    ———————————-
    kalau saya sih ingin menambah ornamen jendela saya di ruangan ini=)
    ———————————-
    ———————————-
    sekolah, memberi kita pelajaran baru kemudian memberi kita ujian.
    sementara kehidupan, justru memberi kita ujian untuk kemudian memetik pelajaran darinya.
    ———————————-
    ———————————-
    UN, dari sudut akademis memang merupakan sebuah tolok ukur yang baik.
    namun UN yang mematikan kesempatan belajar dengan “menidakluluskan” siswa bukan cara mendidik yang baik.
    ———————————-
    ———————————-
    solusi saya,
    kita ganti istilah ‘TIDAK LULUS’
    dengan ‘BELUM LULUS’
    ———————————-
    ———————————-
    dengan demikian siswa yang belum lulus UN tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai jadwal dengan catatan di tahun pertama siswa tersebut menempuh pendidikan yang baru diberikan kesempatan mengulang UN jenjang pendidikan sebelumnya sebanyak 3 kali/percaturwulan.
    ———————————-
    ———————————-
    misalnya, siswa yang tidak lulus UN SMP tetap dapat melanjutkan ke SMU. Di tahun pertamanya di SMU, ia dapat mengulang UN SMP-nya yang belum lulus itu sebanyak 3 kali.
    ———————————-
    ———————————-
    nah, siswa yang seperti itu, dapat dikumpulkan di kelas khusus yang mana diberikan pembinaan sore khusus memberikan materi UN yang belum lulus.
    ———————————-
    ———————————-
    jika setelah 3 kali mengulang itu belum juga lulus-lulus (kebangetan) maka kenaikan kelasnya ke kelas 2 SMU dibatalkan dan dilakukan penelusuran minat, bakat dan keterampilan yang kemudian ditindaklanjuti dengan memasukkannya ke sekolah khusus keterampilan, atau olahraga yang dapat digunakan sebagai pegangan hidup kelak.
    ———————————–
    ———————————–
    kan bisa jadi si siswa memang kurang suka teori-teori njelimet, tapi ingin menjadi atlet yang mengharumkan nama negara atau pun ingin menjadi pengusaha yang dapat membuka lapangan kerja baru bagi orang lain.
    ————————————
    ————————————
    dengan demikian UN tidak memvonis, tapi ada unsur kesempatan didalamnya, ada unsur mendidik, ada unsur demokrasi dalam penelusuran minat siswa.
    ————————————-
    ————————————-
    hal ini hanya berlaku untuk UN SMP saja, untuk SD tidak perlu ada UN karena tekanan mental seperti itu belum pantas diberikan dalam usia anak SD, cukup test untuk mendaftar SMP tertentu saja, kalau toh tidak “keterima” bisa melanjutkan di sekolah swasta.
    ————————————-
    ————————————-
    untuk SMU juga tidak perlu ada UN yang memvonis, cukup dicantumkan nilainya seadanya saja, karena toh nanti jika ingin masuk perguruan tinggi mereka harus ikut test lagi.
    ————————————-
    ————————————-
    fiuh,..
    ribet juga ya,
    namanya juga opini,
    mencoba mengakomodasi setiap kepentingan itu memang banyak tantangannya,
    namun sekecil apa pun setiap partisipasi adalah wujud kepedulian kita menuju kehidupan yang lebih baik=)
    ————————————-
    ————————————-
    waduh, ternyata ornamen saya kebanyakan dan motifnya agak rumit, maklum ornamen “STIL BALI”=)
    ————————————–
    ————————————–
    BRO! niy baru sempat mampir, baru mampir sekali langsung banyak ambil tempat parkir, hehe
    GUDLAK NAH!:+)

    [Reply]

  8. imsuryawan says:

    @devari: betul!!!

    @ick: hehehe… mumpung sing ada gae bli!

    @ghozan: saya cuman mengungkapkan isi hati saja bli! hehehe…

    @eldin: kengken kabare bli? hehehe… No! don’t vote for me! Suba liu ada gae ne di kantor! heeheheh…

    @Blogdokter: hehehe.. sepertinya sih begitu pak!

    @Deddy: betul!

    @jer: beh, kengken kabare ne bli bagus! Duh! Jeg makelo sing taen tingal nok! gudlak masi bro!

    [Reply]

  9. made eka says:

    sebenarnya UN bagus untuk evaluasi, tapi jangan dijadikan alat penentu vonis lulus ato enggak.. jadi salah kaprah…

    [Reply]

  10. gung wie says:

    wah, bli suryawan..
    hehe, makasi sudah bertandang.. iya nih, anak angin dulu ;p

    [Reply]

  11. gung wie says:

    kalo saia sih lebih mengarah ke oknum guru yang ngerubah jawaban murid2nya..
    memang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa.
    udah kualitas untuk menjadi guru itu harus S1, tapi kualitas yang duduk di partai2 minimal SMA..
    Ga kebalik tuh y?
    kita akan dipimpin oleh orang seperti itu. –>nyambung ke pilkada skarang nih.. he3..

    kalo menurut saia UN dihapuskan saja, yang ada penerimaan lewat Tes-tes yang dilakukan di SmU atau Smp..

    [Reply]

  12. abishek says:

    hi.. me PR3.. link me and buzz me.. i ll link u back.. i have one more site.. abisheks.blogspot.com.. please link this also..

    [Reply]

  13. domba garut! says:

    Arah kebijakan pendidikan itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa – bukan hanya semata untuk lulus ujian :D

    When all fails, I guess people can still tolearn from the University of Life..

    Kind regards from Liberia – west Africa.

    [Reply]

  14. okanegara says:

    apapun metode evaluasi, sebenarnya yang harus diprioritaskan adalah “proses”nya bukan “hasil” semata.seringkali kita terjebak dengan arti sebuah “nilai” dan mendewakan “nilai”, sehingga orang melupakan proses. sebagai contoh, bahasa inggris diajarkan di smp dan sma, itu artinya 6 tahun belajar dan sebagian besar siswa indonesia lulus dengan pembuktian sebuah nilai kelulusan, tapi prosesnya sendiri jauh dari yang semestinya, dan sudah bisa ditebak, sangat sedikit dari yang sudah bernilai lulus ternyata yang bisa bahasa inggris, kalaupun bisa sering kali justru karena kursus di luar yang metode dan prosesnya lebih kena sasaran.

    [Reply]

  15. budarsa says:

    ah saya kira United Nation …
    *kabur..

    [Reply]

  16. tadi g baca di kompas kok, hahaha…
    katanya KPIA/KPAI g lupa kan debat ama pihak BSNPp

    [Reply]

  17. cs_1912 says:

    wah sori sori buat comment di atas.

    hmm, tadi g baca di kompas ada KPAI/KPIA g lupa debat ama BSNP..

    sekarang pihak BSNPnya aja udah ngaku kalau UN itu nggak bisa memetakan pendidikan di indonesia.

    so sekarang perkembangannya gimana, g gak tahu deh… hahaha

    hope for the best aja… :)

    [Reply]

Leave a Reply

(required)

(required)

© 2010 IMS' Blog Suffusion WordPress theme by Sayontan Sinha